“Merah Putih” opiniku

September 25, 2009 at 7:52 am (Reviews) (, )

“Wuih, bhuwaaaagus itu!” dengan “bhuwwaaa” yang hampir mau meledak. Itu jawaban mas2 yang kerja di tempat aku biasa nyewa film waktu aku nanya tentang film Merah Putih kemaren. Jadi aku putuskan nonton film itu tadi malam. Katanya, penggarapan film Merah Putih itu banyak campur tangan orang2 yang udah expert di film2 Hollywood, kayak ahli special efek Inggris Adam Howarth yang pernah menggarap film Saving Private Ryan, Harry Potter and The Sorcerer`s Stone. Ada juga sutradara Rocky McDonald yang udah memperlihatkan kejeniusannya dalam film Mission Impossible II dan The Quiet American. De el el yang serba brilian lah. Ya otomatis aku penasaran bgt n ekspektasiku langsung meninggi. Ga sabar pengen liat film lokal yang ditangani orang2 berkelas dunia. Ting! Aku langsung ke 21 dan…. akhirnya…. Inilah yang ku dapatkan.

Untuk tidak terjebak emosi sesaat, lebih baik aku nulis nilai plusnya aja dulu.

1. Setianya Melati pada suaminya Amir dan sayangnya Senja pada adiknya Soerono. Aku ga yakin apakah yang dilakukan Melati benar tentang merahasiakan kehamilannya karena Amir akhirnya memutuskan ikut berjuang (dia sebelumnya adalah guru). Tapi poin disini adalah bahwa Melati sangat tegar dan setia. Senja juga. Nyari2 Soerono di hutan, ditengah deru bom dan tembakan, sempoyongan berjalan tanpa arah yang akhirnya dia menemukan adiknya itu udah sekarat. Kalo ini aku sedikit dibumbui perasaan pribadi… Kebayang adik cowokku. Hweheehh..

2. Seorang bapak di sebuah kampung selamat karena ketika tentara Belanda menyerang, dia dan anak2nya sedang di sawah. Wajah bapak itu lho… Ntah karena belum lihai akting atau emang tuntutan sutradara… Ekspresinya datar banget. Padahal istrinya dan orang2 sekampung udah tewas. Aku jadi ragu, yang baja itu hatinya apa wajahnya? Tapi berhubung nilai minus buat film ini lebih banyak, aku dengan sedikit berat hati mengkategorikan ini sebagai nilai plus lah. Bukan hal yang mudah memasang tampang datar ketika orang2 terdekat kita meninggal secara massal.

3. Dibanding film2 Indonesia yang makin hari makin ga jelas, Merah Putih jauuuuh lebih bermutu dan berisi. Hm… Aku ga abis pikir kenapa sih masih ada juga yang mau memproduksi film2 kosong, yang udah jelas ga ada mutunya, n paling parah ga punya karakter sedikitpun.

4. Aku suka banget sama tokoh Dayan (eh iya Dayan kan? yang dari Bali). Ga banyak omong. Dia yang banyak mengucapkan kata2 bijak. Salah satu yang paling aku suka adalah waktu Amir (sebagai letnan) sedang kalap n panik. Dia ga tau mau ngasih instruksi apa sama anak buahnya yang cuma tinggal 3 orang.
Dayan: “Seorang pemimpin bebas mengatakan apa saja kepada pasukan kecuali ‘tidak tahu’”
Plok plok plok… Suit suit… Aku suka banget. Trus…
Amir: “Kenapa bukan kamu saja yang memimpin?”
Dayan: “Lalu siapa yang akan memberiku nasehat?”

Hm… Cuma 4 ya? Ya… Sayang banget. Oke, sekarang kita beralih ke hal2 yang “mengganggu” buatku

1. Wilayah yang diceritakan kurang spesifik. Aku ga tau itu di kampung mana, taunya cuma di Jawa Tengah. Informasinya minim sekallee..

2. Hm… Emangnya para pejuang negri kita dulu gitu ya mental n strateginya? Pasukan yang ga lebih dari 6 orang aja masih berantem ditengah kepungan bom n tembakan.

3. Film ini juga mengalami krisis identitas. Film perjuangan seharusnya mengaduk2 emosi nasionalisme dengan murni. Suasana asrama tentaranya aja bukan seperti sedang ada perang berkecamuk. Ringan bangeeet… Sepanjang kurleb 2 jam, penonton lebih banyak ketawa. Mau ga mau aku ya ikut juga. Abis emang lucu. Hahaha… Pas adegan tegang, banyak yang bikin ga nyambung. Ntah ekspresi pemainnyalah, ntah kata2 yang mereka ucapkanlah, ntah efek visualnyalah, ntah backsoundnyalah. Masa lagi nyusun strategi nyerang penjajah malah diiringi suara biola yang mau bikin nangis???

4. Okelah kalo alasannya film ini cuma mencangkup perjuangan di sebuah daerah kecil. Tapi… Untuk jenis film perjuangan, film ini sepi bangeeet… Di kamp pejuang lokalnya aja kayaknya ga lebih dari 70 orang. Aku jadi suuzon sama orang2 Hollywood itu. Mereka serius ga sih?

5. Soerono, belum ngapain2 tiba2 udah naik pangkat jadi letnan. Amir sih cocok2 aja. Mestinya si Tomas tuh, jago nembak. Ato Dayan.

6. Aku paling terganggu sama efek visualnya.
a. Waktu Senja lagi menangisi adiknya yang udah meninggal, turun hujan gerimis. Blah! Ga real bgt. Aku coba buka kacamataku. Dari kursi no 3 paling belakang dan dengan mata minus 2 aja juga masih kelihatan palsu. Oh… Sayang sekali.
b. Rumah2 yang di kampung kan dibakar sama tentara Belanda. Masa semalaman dibakar dinding2 rumahnya ga abis/itam? Darah korban2nya pun masih segar. Semalaman… Bukankah seharusnya udah kering tu darah? Wajah istri bapak yang masih idup itu pun ga ada pucat2nya sama sekali. Padahal udah wafat semalaman sodara2…. (prasaan dari tadi banyak bgt kata “semalaman”)
c. Oya, Amir itu kan dulunya guru… Dia punya murid yang bercita2 jadi perwira. Waktu tentara Belanda nyerang daerahnya, si murid kena tembak dari belakang. Duar duar! Toeng… Asli keliatan bgt cuma cairan merah yang ditembakkan ke bajunya.

7. Sisa pejuang kita yang 4 orang itu menyiapkan jebakan. Dibantu sama anak2 si bapak tadi. Aneh, anak2 desa yang belum pernah megang senjata bisa menembak tepat sasaran jarak jauh hanya dengan latihan beberapa menit (durasi film). Keren anak2 si bapak, mau lah satu. Haha..

8. Endingnya… waktu mereka ber4 sama paket anak n bapak tadi akhirnya menang dan bersiap menuju suatu tempat dengan seorang Belanda sebagai kunci, tiba2 3 atau 4 truk dibelakang mereka meledak. Itu gara2 apa ya? N buat apa? Kalo buat mendramatisir ending film ya dijelasin lah dengan seksama dan sesingkat2nya…

9. Tambahan sedikit buat posternya. Kok Melati ga ada ya? Menurutku lebih cocok dia daripada Senja.

Dan masih buuwwwaaaaanyaak (dengan “bhuwww”nya orang jawa) lagi detail2 yang mengecewakan. Finally… Aku bertanya2. Ada apa dengan dunia perfilman negriku? Udah banyak campur tangan orang2 high class kok ga banyak beda ya? Persiapan 2 tahun itu udah lumayan lama. Tapi ya… mudah2an ini cuma awal dari tunas yang bakal tumbuh subur. Daripada film2 horpon atau kisah2 cinta yang alurnya klise, Merah Putih memang jauh lebih bagus. Merah Putih ini trilogi, aku berharap banyak sama kelanjutannya.

p.s.: Mungkin pasangan di depanku menjadi salah satu penyebab kecil kenapa film ini banyak detail “mengganggu”nya. Dari awal film diputar, kepala mereka nempel terus. Apa ga cape tu cewe maksain badannya miring selama 2 jam??

Thursday, 20 August 2009 at 09:33

2 Comments

  1. vanilla said,

    Banyak banget yang bilang kalau hujan di film MerPut tuh keliatan palsu. Padahal krn mereka shooting di musim hujan, maka hujan2 tersebut justru ga ada yang palsu. Asli dari Tuhan :)

  2. ainunmardhiah said,

    iya ya? tapi kok keliatan ga nyata bgt. hm… apa mataku yang salah ya? hehe…

Post a Comment